Friday, November 1, 2019

UMUM November 2019 #1 - Pergunakan Mulut Kita untuk mengutarakan yang baik


PERGUNAKAN MULUT KITA UNTUK MENGUTARAKAN HAL-HAL YANG BAIK
Efesus 4:29-32

"Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia." - Efesus 4:29


Tahun Ibrani 5780 yang sedang kita masuki saat ini mengandung suatu pesan yang baik untuk kita perhatikan dan ikuti.  Angka "80" disebut Pey (atau Peh, tergantung dialek) dalam bahasa Ibrani.  Angka ini juga digambarkan sebagai mulut, yaitu bagian tubuh kita yang terutama dipergunakan untuk berkata-kata dan berkomunikasi; penekanannya disini (bukan mulut sebagai bagian tubuh untuk makan/pencernaan).  Kita hendaknya menjaga segala perkataan kita -- termasuk tulisan di apps chatting dan medsos -- baik itu dalam doa kita kepada TUHAN maupun dalam interaksi dengan sesama kita.  Firman TUHAN  dalam Efesus 4:29-32 mengajarkan beberapa hal yang perlu kita perhatikan sehubungan dengan mulut/perkataan:

1.   Perkatakan hal yang baik dan membangun, agar yang mendengarnya pun terberkati (29)

Salah satu efek dari besarnya penggunaan apps medsos dan chatting yang sekarang ini banyak rupa dan jumlahnya, adalah rendahnya interaksi sosial secara langsung.  Interaksi tidak lagi dilakukan secara tatap muka (face to face) sehingga penulis tidak bisa melihat akibat langsung dari apa yang ia perkatakan/ tuliskan.  Di dalam komunikasi secara langsung kita bisa melihat reaksi wajah atau bahasa tubuh dari lawan bicara saat mereka mendengarkan perkataan kita.  Dari reaksi mereka, kita bisa menyesuaikan perkataan kita, termasuk cara kita menyampaikannya. 
Melalui interaksi langsung, kita belajar menjadi peka dan sensitif dengan lawan bicara kita.  Hal-hal ini tidak di dapatkan --atau setidaknya terbatas-- melalui medsos atau chatting seperti Whatsapp.  Itulah sebabnya mekanisme emoji ditambahkan agar memungkinkan penulis memberi efek emosional di tulisannya agar pembacanya setidaknya mengerti apa yang menjadi maksud si penulis. 
Kelemahan dari berkomunikasi secara dunia maya seperti inilah yang membuat banyak hari-hari ini menuliskan kalimat/kata-kata kebencian, makian, ketidaksopanan seenaknya, karena si penulis tidak melihat atau merasakan langsung efek dari kata-kata mereka.  Hasilnya?  Berapa banyak anak-anak muda yang di-bully secara online menjadi depresi dan bahkan ada yang bunuh diri seperti di Korea, karena yang mem-bully tidak menyadari atau memperhatikan bagaimana perkataan mereka telah menyakiti anak tersebut.

Sebagai anak-anak TUHAN, Allah meminta kita agar menjaga perkataan kita.  Sebagaimana Yesus dalam berkata-kata selalu menjadi berkat bagi banyak orang yang mendengarkan-Nya, demikian juga kita sebagai orang percaya yang bertumbuh ke arah Kristus Yesus, maka kita juga perlu meneladani tindakan-Nya tersebut. 
Perkataan yang baik bukan berarti yang mendayu-dayu atau lembut; itu adalah cara berbicara.  Yang dimaksudkan disini adalah perkataan-perkataan yang membangun.  Jika diperlukan, bisa saja terdengar "keras" tetapi jika itu dibutuhkan untuk kebaikan lawan bicara kita, maka sampaikanlah dengan baik dan sedemikian rupa dengan bijak.


2.   Perkataan yang sia-sia akan mengecewakan TUHAN (30-32)

Tentu sebagai orang percaya hal yang sangat tidak kita inginkan adalah membuat hati TUHAN sedih dan kecewa.  Perkataan (termasuk posting-an) yang sia-sia pun mendukakan hati TUHAN.  Ingatlah bahwa hidup kita yang penuh  dosa dan sia-sia ini telah Kristus tebus dengan harga yang mahal.  Jangan kemudian mulut yang sudah Allah tebus ini kemudian kita pergunakan untuk hal-hal yang TUHAN tidak suka.

Mulut adalah hal yang penting.  Itulah juga sebabnya kita Roh Kudus tercurah untuk memampukan kita melakukan apa yang TUHAN perintahkan, maka hal pertama yang di kuduskan adalah mulut, yaitu dengan Bahasa Roh.  Namun ingat juga bahwa apa yang meluncur keluar dari mulut kita berasal dari dalam hati dan pikiran kita.  Jika perasaan dan pikiran kita tidak ditundukkan kepada Firman dan Roh Kudus, maka segala hal yang buruk seperti kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah akan meluncur dari mulut kita.  Contoh: TUHAN meminta kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita, sebagaimana Ia sendiri telah mengampuni kita yang berdosa kepada-Nya.  Pengampunan yang kita terima, kini kita teruskan kepada orang yang menyakiti kita.  Waktu kita tidak mau mengampuni, artinya kita tidak meneruskan pengampunan-Nya dan tidak menghargai apa yang Ia lakukan.  Kita juga artinya tidak melakukan apa yang Dia perintahkan.  Kita malah memilih untuk tetap pahit, geram, marah dan bertikai tanpa henti dengan orang tersebut, sekalipun mungkin bahkan ia sudah memohon maaf.

Agar perkataan kita baik, perasaan hati dan pikiran kita pun harus baik.  Dengan kekuatan sendiri tidak akan tercapai.  Itulah sebabnya kita butuh Roh Kudus.  Roh Kudus yang menguduskan dan memampukan kita agar hidup kita jadi berkat bagi orang lain, termasuk dalam hal perkataan kita.  Karena Roh Kudus ada dalam kita, maka Ia juga akan memberi peringatan dalam hati kita, kalau kita hendak mengutarakan sesuatu yang Allah tidak suka.  Pilihannya kemudian adalah ditangan kita: apakah mau mengikuti apa yang Roh Kudus nyatakan (peringatan-Nya) atau tetap saja berkata-kata seenaknya kita saja?  Jangan dukakan hati Allah, mari kita ikuti apa yang Ia mau.  Yang Allah mau adalah kita hidup penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sama seperti Kristus telah lakukan kepada kita. Amin. (CS)

Youth November 2019 #2 - BELAJAR DARI KERENDAHAN HATI YESUS SEBAGAI HAMBA



BELAJAR DARI KERENDAHAN HATI YESUS SEBAGAI HAMBA
(HUMILITY VS PRIDE PART 2)        
             
Bahan Bacaan
Flp 2:7b, “…mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” 

Penjelasan Materi:
Youthers, pada Minggu kedua ini, kita masih membahas beberapa contoh sikap hati dan tindakan yang Yesus lakukan untuk menunjukkan kerendahan hatiNya, yaitu hati sebagai hamba.
Yesus Mengambil Rupa Seorang Hamba

Youthers, saat Yesus merendahkan diriNya menjadi manusia, Ia memilih menjadi yang paling rendah, yaitu mengambil rupa seorang hamba.

  Seorang hamba itu identik dengan sikap melakukan semua hal untuk kemuliaan dari tuannya dan bukan untuk mendatangkan kemuliaan bagi dirinya sendiri, begitulah yang ditunjukan oleh Yesus.  Yesus mengajarkan kepada  kita bahwa semua hal yang Ia lakukan di dunia adalah untuk memuliakan Bapa yang di Surga.

  Seorang hamba itu tidak pernah mengharapkan imbalan dalam bentuk apapun. Perhatikan Firman Tuhan dalam Luk 17:9-10, “Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan." Begitu pula Yesus, Yesus adalah seorang manusia yang tak berdosa tetapi Ia melayani tanpa mengharapkan imbalan.

  Seorang hamba pasti mau melayani orang lain. Dalam Lukas 22:24-26, Yesus menasihatkan para murid bahwa yang terbesar di antara mereka adalah mereka yang mau melayani dan bukan dilayani. Pada masa-masa terakhir hidupNya, Yesus membasuh kaki murid-muridNya sebagai lambang kerelaanNya untuk melayani dan menjadi hamba bagi orang lain. Selain berarti kerelaan untuk tidak dikenal, kerendahan hati juga berarti kerelaan untuk melayani dan menjadi hamba bagi orang lain. Kita wajib saling melayani satu dengan yang lain dalam kerelaan bila ingin hidup dalam kerendahan hati.

Youthers, Yesus merupakan teladan utama kita dalam mempelajari hidup dalam kerendahan hati. Selama hidupNya di dunia ini, Yesus selalu berjalan dalam kerendahan hati dan ketaatan kepada Bapa. Oleh karena itu pelayananNya membawa pengaruh yang begitu besar dan membawa dampak luar biasa bagi orang-orang disekelilingNya.

Bahan Diskusi : Pelajaran apa yang dapat anda petik dari teladan Yesus dalam mengambil rupa sebagai seorang hamba?

Youth November 2019 #1 - BELAJAR DARI KERENDAHAN HATI YESUS



BELAJAR DARI KERENDAHAN HATI YESUS
(HUMILITY VS PRIDE PART 1)        
             
Bahan Bacaan
Mat 11:29, "belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan."

Penjelasan Materi:
Youthers,  bicara soal kerendahan hati, hal itu erat kaitannya dengan penyerahan dan ketergantungan total kepada Tuhan. Dalam sepanjang pelayananNya di bumi, Yesus berhasil memberi contoh kehidupan yang penuh dengan kerendahan hati untuk ditiru oleh murid-muridnya. Berdasar bahan bacaan kita hari ini, mari kita pelajari tentang bagaimana kelemahlembutan dan kerendahan hati Yesus, agar kehidupan kita mendapat ketenangan dan kemenangan. Berikut adalah beberapa contoh sikap hati dan tindakan yang Yesus lakukan untuk menunjukkan kerendahan hatiNya:

Yesus Mengosongkan diriNya
Youthers, perhatikan Firman Tuhan dalam Flp 2:5-7, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”  Ayat ini menjelaskan bagaimana Yesus yang datang dalam wujud manusia, tetap menjalankan kewajibanNya sebagai manusia dan tidak meninggikan dirinya sebagai Tuhan. Walaupun Yesus merupakan anak Raja dari segala Raja, namun tanggalkan semua hak istimewaNya di Sorga, mengosongkan diriNya untuk diutus ke dunia,  lahir di kandang yang hina sebagai anak tukang kayu yang mana pada masa itu, bukan pekerjaan yang dipandang terhormat oleh orang-orang di zamanNya.

Yesus Berserah pada Kehendak BapaNya
Dalam kisah Yesus di Taman Getsemani dalam Matius 26:36-46, kita tahu bahwa meskipun Yesus meminta pada BapaNya untuk mengambil cawan pahit itu dariNya, Ia merendahkan diriNya dihadapan Tuhan dan dengan kerelaan hati berserah untuk melakukan kehendak Tuhan bahkan sampai mati di kayu salib (Flp 2:8). Youthers,  ini adalah sebuah bentuk kerendahan hati yang penting yang ditunjukan Yesus. Kerendahan hati Yesus dan sikap berserah pada kehendak Tuhan inilah yang mendorongnNya untuk menyerahkan hidupNya di kayu salib sehingga kita dapat menerima anugrah keselamatan.

Bahan Diskusi :
Pelajaran apa yang dapat anda petik dari teladan Yesus dalam mengosongkan diriNya dan berserah kepada kehendak BapaNya?

PENTAKOSTA KE 3

PENTAKOSTA KE 3

SENIMENULISISIHATITUHAN

JADWAL IBADAH

JADWAL IBADAH