Tuesday, September 21, 2021

PIKIRKANLAH PERKARA YANG DI ATAS, BUKAN YANG DI BUMI

 

Shalom,

Tanggal 4 September 2021, gereja kita GBI Jl. Jendral Gatot Subroto, genap berumur 33 tahun. Saya mengucapkan Selamat Hari Ulang Tahun yang ke-33. Tuhan Yesus memberkati kita semua berlimpah limpah limpah… Amin!

Pesan Tuhan untuk memasuki tahun yang ke-34 terdapat dalam Kolose 3:1-4,

“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.”

Kita harus mencari dan memikirkan perkara-perkara di atas, bukan yang di bumi, supaya pada waktu Tuhan Yesus menyatakan diri kelak, artinya pada waktu Tuhan Yesus datang untuk menjemput gereja-Nya, kita juga akan menyatakan diri bersama dengan Tuhan Yesus di dalam kemuliaan-Nya, yang artinya kita juga akan ikut dalam pengangkatan dan akan masuk sorga.

"Memikirkan dan mencari perkara yang di atas", artinya:

kita harus menilai, mempertimbangkan dan memikirkan segala sesuatu dari sudut pandangan kekekalan dan sorga.

kita harus berpikir dan bertindak sesuai dengan pikiran dan tindakan Kristus.

Ini kita lakukan karena kita ada bersama dengan Kristus.

Kita akan terus melakukan dengan setia karena Kristus adalah hidup kita sampai kita bertemu dengan Dia dalam kemuliaan-Nya, yaitu pada waktu Dia datang kembali untuk menjemput gereja-Nya.

"Perkara yang di bumi" berbicara tentang:

hidup yang duniawi, yang dinyatakan dalam rupa perintah, peraturan dan ajaran yang tidak membawa seseorang kepada pengenalan akan Kristus

segala sesuatu yang berada dalam pikiran, perkataan, perbuatan yang merupakan sifat manusia lama, sehingga bertentangan dengan kehendak Allah.

Supaya kita bisa memikirkan dan mencari perkara yang di atas, maka:

Kita harus mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan.

Hati kita harus melekat kepada Tuhan. Banyak berdoa, memuji dan menyembah Tuhan.

Kita harus memiliki kasih yang semula.

Kita harus melakukan kehendak Bapa di sorga.

Kita harus hidup berintegritas.

Sekali lagi saya akan mengingatkan kita semua, bahwa dalam menghadapi masalah apapun juga kita harus tetap meresponi dengan memikirkan dan mencari perkara yang di atas, bukan dengan perkara yang di bumi.

 

MENGASIHI MUSUH KITA DAN BERDOA BAGI MEREKA

Tuhan Yesus berkata:

“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Karena dengan demikianlah kamu adalah anak-anak Bapamu yang di sorga.

Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu?

Bukankah pemungut cukai juga melakukan demikian?

Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja,

bukankah orang yang tidak mengenal Allah juga melakukan hal yang seperti itu?

Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."

Matius 5:44-48

Kita tahu bahwa ini tidak mudah untuk dilakukan, tapi bukan berarti tidak bisa. Kita pasti bisa melakukannya. Kita harus mengingat Amsal 4:23 yang berkata:

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”

Kita akan mengalami kehidupan kekal selama-lamanya, jika hati kita mau mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Tuhan Yesus mengajar dalam Doa Bapa Kami:

“Ampunilah kami atas segala kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.”

Kalau kita tidak mengampuni orang yang bersalah kepada kita, maka Tuhan juga tidak akan mengampuni kita.

1 Yohanes 3:14-15 berkata:

“Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut. Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.”

Karena itu, mari, kita harus mencari dan memikirkan perkara yang di atas, bukan yang di bumi.

Mazmur 15:1 berkata,

“TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu?

Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?”

Salah satu syaratnya terdapat dalam Mazmur 15:4c yaitu

“…mereka yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi..”

Tuhan Yesus berkata kalau “ya” katakan “ya”. Kalau “tidak” katakan “tidak”. Jadi kalau kita sudah berkata “ya”, artinya berjanji “ya”, maka apapun yang akan terjadi, kita harus tetap “ya”, walaupun rugi.

Terus terang saya banyak melihat orang-orang yang sesudah berkata “ya” tetapi begitu akan merugi kadang-kadang seperti lupa kalau pernah berkata “ya” dan mencari 1001 alasan bagaimana agar “ya” nya bisa berubah menjadi “tidak” meskipun harus lewat proses hukum. Ini yang disebutkan 'perkara yang di bumi', bukan 'perkara yang di atas'. Amsal 21:21 berkata,

“Siapa mengejar kebenaran dan kasih akan memperoleh kehidupan, kebenaran dan kehormatan.”

Karena itu jadilah orang yang berintegritas, orang yang hidup tulus, jujur di hadapan Tuhan.

TAHUN PEY BET

Menurut kalender Ibrani, dari tanggal 6 September 2021 sampai dengan 26 September 2022, kita memasuki tahun 5782 yang disebut sebagai tahun Pey Bet.

Pey Bet artinya 82.

Pey adalah angka 80, menggambarkan mulut. Jadi masuk tahun Pey Bet ini, kita diingatkan kembali tentang mulut.

Bet atau huruf kedua dalam alphabet Ibrani digambarkan dengan sebuah tenda atau rumah atau tempat kediaman. Ada 2 tempat tinggal dari umat manusia. Yang pertama di dunia. Yang kedua di sorga atau di neraka.

Memasuki tahun Pey Bet atau 82, kita diingatkan bahwa kita masih hidup dalam dunia ini, tetapi segala apa yang kita lakukan, apa yang kita ucapkan, apa yang kita tuliskan dalam media sosial, bukan seperti cara-cara dunia, tetapi harus dengan cara sorga.

Microsoft merilis “Indeks Keberadaban Digital” atau “Digital Civility Index” yang menunjukkan tingkat keberadaban pengguna internet atau netizen sepanjang tahun 2020. Hasilnya memprihatinkan karena menunjukkan tingkat keberadaban netizen Indonesia sangat rendah. Berdasarkan laporan survey dari 16.000 responden di 32 negara, antara bulan April - Mei 2020 ini menunjukkan Indonesia ada di peringkat ke 29, terburuk di Asia Tenggara. Saya percaya netizen ini, termasuk di dalamnya orang-orang Kristen juga.

Tuhan Yesus berkata dalam Matius 12:36-37,

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum."

Tuhan Yesus akan segera datang kembali. Mari, saya mengajak kita semua untuk berhati-hati dengan mulut kita, juga dengan apa yang kita tuliskan di media sosial, apakah itu hoaks atau ujaran kebencian supaya jangan kita dihukum. Amsal 21:23 berkata,

“Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran.”

Karena itu pikirkan dan carilah hal-hal yang di atas, di mana Kristus tinggal, bukan seperti yang di bumi.

BAPTISAN API

1 Korintus 6:19 berkata:

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?”

Roma 14:8, berkata:

“Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.”

Kita yang sudah dimeteraikan oleh Roh Kudus adalah milik Tuhan. Jadi kita hidup untuk Tuhan. Kita mati untuk Tuhan. Tuhan menghendaki agar kita menjadi serupa dengan gambar-Nya. Jadi Dia harus makin besar dan kita harus semakin kecil. Biarlah orang melihat Kristus yang ada di dalam kita.

Ada seorang hamba Tuhan dari Inggris yang bernama Smith Wigglesworth. Dia dikenal sebagai Rasul Iman. Dia dipakai oleh Tuhan dalam mujizat dan kesembuhan secara luar biasa. Dia tetap melayani Tuhan sampai akhir hidupnya, pada waktu dia berumur 87 tahun.

Tuhan pernah berkata kepadanya: “Wigglesworth, Aku akan membakar engkau sampai habis, sampai tidak ada lagi Wigglesworth, hanya Yesus!” Wigglesworth berdoa: “Ya Tuhan, lakukan itu. Saya tidak mau orang melihat saya lagi, hanya Yesus!”

Menjadi seorang hamba Tuhan harus seperti ini, juga harus seperti Yohanes Pembaptis yang berkata Ia harus makin besar tapi aku harus makin kecil. Karena itu hari-hari ini kita melihat Baptisan Api sedang turun membakar habis keakuan kita, kedagingan kita, sehingga membuat kita semakin kecil, Ia semakin besar.

Waktu sebelum pandemi COVID-19, saya melihat perlombaan gereja-gereja untuk menjadi yang paling besar, paling terkenal dan kita melihat bahwa perlombaan itu sudah dihentikan oleh Tuhan sejak kita memasuki pandemi. Tetapi di tengah-tengah pandemi ini muncul satu fenomena baru yaitu terjadi perlombaan untuk mencari “views”, dengan bermacam-macam motivasi dan kepentingan.

Saya percaya ketika ditanya, jawabnya pasti ini untuk kemuliaan Tuhan. Bukan rahasia lagi kalau seseorang mempunyai jumlah views yang banyak pasti akan terkenal, mendapat pujian untuk kebanggaan kalau kita dipakai oleh Tuhan, atau kepentingan bisnis atau juga mungkin ada hal-hal lain. Tidak heran kalau “views” menjadi tolok ukur suatu prestasi di zaman digital ini. Sehingga banyak orang yang berlomba-lomba menggunakan segala cara dunia untuk mendapatkan hal tersebut. Seperti beli followers, beli like atau bahkan memaksa orang menonton konten kita.

Saya berdoa supaya bukan karena “views” kita membuat konten, tetapi karena ada kuasa daripada Tuhan yang menggerakkan kita. Sehingga ketika orang menonton konten yang kita buat, disitu ada aliran kehidupan yang mengisi mereka yang menonton.

Hari-hari ini Tuhan mengingatkan kepada kita sebagai hamba Tuhan agar berhati-hati. Kalau kita ingat bagaimana cara perlombaan gereja sebelum masa pandemi itu dihentikan oleh Tuhan, maka kita harus berhati-hati agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Saya mengajak agar kita introspeksi, memeriksa diri kita. Saya akan bertanya kalau kita melihat views kita banyak, apakah kita benar-benar berkata ini adalah untuk kemuliaan Tuhan atau kita berbangga hati karena ini dianggap sebagai ukuran Tuhan memakai kita.

Tuhan Yesus mengingatkan kita dalam Lukas 6:26,

“Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu."

Tuhan Yesus mengingatkan kita kalau seseorang selalu ingin dipuji-puji itu adalah nabi palsu. Tuhan mengingatkan kepada kita bahwa kita harus semakin kecil, dan Dia semakin besar. Kita harus semakin menjadi seperti gambar-Nya. Karena itu Tuhan hari-hari ini menurunkan Baptisan Api yang akan membakar atau menghancurkan keakuan kita.

TANDA KEDATANGAN-NYA

Pada waktu murid-murid Tuhan Yesus menanyakan tentang tanda kedatangan-Nya kembali dan tanda kesudahan dunia ini, salah satunya Tuhan Yesus menjawab adanya penyakit sampar.

Pandemi COVID-19 ini bisa disebutkan sebagai penyakit sampar sehingga pandemi ini merupakan salah satu tanda dari kedatangan Tuhan Yesus untuk kali yang kedua. Tuhan Yesus mau agar kita mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus di awan-awan yang akan menjemput gereja-Nya. Ini dapat diartikan bahwa kita harus mempersiapkan diri untuk ikut dalam pengangkatan.

Pada tahun 2009, Tuhan Yesus berbicara kepada saya: "Aku datang segera". Hal itu akan didahului dengan pencurahan Roh Kudus yang dahsyat. Salah satu tanda dari pencurahan Roh Kudus yang dahsyat sesuai dengan Yoel 2:31, adalah terjadinya goncangan yang dahsyat.

Tahun 2013 Tuhan memberikan nama dari pencurahan Roh Kudus yang dahsyat itu sebagai Pentakosta Ketiga. Goncangan yang dahsyat yang Tuhan maksudkan adalah pandemi COVID-19. Jadi pandemi COVID-19 ini adalah salah satu tanda bahwa Pentakosta Ketiga sedang terjadi. Hal ini dapat diartikan bahwa pandemi ini akan membuat orang-orang mawas diri, introspeksi, bertobat dan menjadi murid Tuhan Yesus.

Pada waktu Roh Kudus dicurahkan di kamar loteng Yerusalem, terdengar bunyi seperti tiupan angin keras, dan tampaklah lidah-lidah seperti nyala api yang hinggap pada 120 murid Tuhan Yesus. Mereka dibaptis dengan Roh Kudus yang juga dapat diartikan mereka mengalami Baptisan Api. Hal seperti itu juga terjadi hari-hari ini. Pada Pentakosta Ketiga, kita juga sedang mengalami Baptisan Api. Pandemi adalah salah satu wujud dari Baptisan Api.

Saya terkesan dengan pidato Bapak Presiden Jokowi pada Sidang Tahunan 16 Agustus 2021, yang berkata:

“Krisis, resesi dan pandemi seperti api.

Kalau bisa, kita hindari, tetapi jika hal itu tetap terjadi, banyak hal yang bisa kita pelajari.

Api memang membakar, tetapi juga menerangi.

Kalau terkendali dia menginspirasi dan memotivasi.

Dia menyakitkan, tetapi sekaligus bisa menguatkan.

Kita ingin pandemi ini menerangi kita untuk mawas diri, memperbaiki dan menguatkan diri kita dalam menghadapi tantangan untuk masa depan.”

Woww… Saya percaya Tuhan memakai Bapak Presiden Jokowi untuk menyatakan kehendak-Nya melalui pandemi ini untuk Indonesia. Hari-hari ini kita sedang mengalami Baptisan Api. Tuhan sedang membersihkan gereja-Nya. Kita akan diubah oleh Tuhan, dan melalui pandemi ini saya percaya kita akan menjadi indah pada waktu-Nya.

Kalau ada di antara Saudara yang karena pandemi ini atau karena masalah lain mengalami tekanan-tekanan, seperti depresi, ketakutan, kebingungan, tidak tahu apa yang harus diperbuat, merasa kehilangan masa depan. Tuhan mengingatkan kita dalam 1 Korintus 10:13,

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”

Tuhan Yesus baik. Dia sungguh baik, sangat baik kepada kita semua. Tuhan Yesus merindukan pada saat Dia datang di awan-awan untuk menjemput gereja-Nya, kita akan ikut dalam pengangkatan dan masuk sorga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa, karena kita memikirkan dan mencari perkara-perkara yang di atas dimana Kristus ada.


PENTAKOSTA KE 3

PENTAKOSTA KE 3

SENIMENULISISIHATITUHAN

JADWAL IBADAH

JADWAL IBADAH