Monday, February 21, 2022

K A L A U

 "KALAU"

Sering kita berkatà,

KALAU saya diberkati saya akan  memberkati orang lain,

KALAU masalah saya selesai saya akan lebih sungguh2 beribadah,

KALAU saya sudah berkecukupan, saya akan berbakti kepada orang tua,

KALAU saya berkelimpahan, saya akan melakukan banyak kebaikan

KALAU saya ditolong Tuhan, saya akan melayani pekerjaan-Nya

KALAU saya punya waktu, saya akan mulai membaca Alkitab sistematis dan menghabiskannya dalam setahun.

Dan banyak lagi kita mengucapkan KALAU.

Sebetulnya untuk rajin ibadah,. melayani, menjadi berkat, memberi dan  menghormati orangtua, berbagi kepada sesama, dan hal2 baik lain,  tidak harus memakai KALAU.

Kita selalu bisa melakukannya sejak saat ini juga.

ALLAH sudah memberi banyak hal baik kepada kita, dan Allah akan menambahkannya, sesuai kesanggupan kita.

Lukas 19:26 (TB)  Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya.

Tuesday, February 8, 2022

KETIKA AKU AKAN BERANGKAT MENUJU PANTI WERDA

 *ARTIKEL dibawah ini sedang jadi trending , juga jadi artikel yang paling banyak reviewnya di medsos. Pengarangnya adalah Chi Jin Shan--seorang pensiunan sastrawan yang tinggal di Hu Bei-China, suasana hati dan perasaannya ketika akan segera menghuni Panti Werda. Apapun keputusan kita bagaimana akan melewati masa tua kita, sudut pandang logis dalam tulisan ini patut kita simak baik2*

*“KETIKA AKU AKAN BERANGKAT MENUJU PANTI WERDA”*

Aku akan segera menghuni Panti Werda (Panti Asuhan) , kalau tidak terpaksa, aku tidak akan menghuni Panti Werda. Tetapi ketika kehidupan ini sudah tidak mampu lagi untuk mengurus diri sendiri, sedangkan anak2 begitu sibuk bekerja juga mengurus serta membesarkan cucu, sehingga waktu untuk kita sudah sangat minim sekali, rasanya ini adalah satu2nya jalan keluarku.

Aku harus berbenah untuk pindah rumah, pindah ke Panti Werda !

Kondisi dan suasana serta fasilitas Panti Werda bagus sekali: Ruang Tidur yang bersih, dilengkapi dengan peralatan listrik yang modern dan praktis; semua sarana hiburan juga lengkap; menu harian juga enak; pelayanan juga sangat memadai; lingkungan sekitar juga cantik; hanya saja ‘tidak murah’.

Uang pensiunku pasti tidak cukup. Tapi aku punya rumahku sendiri, segera akan aku jual, oleh karenanya uang sudah bukan masalah. Untuk melewati masa tuaku uangku pasti tidak akan habis, sisa daripadanya sepeninggalku yang akan datang, biarlah jadi warisan untuk anakku.

Anakku sangat ber-empati: Hartamu sebaiknya pakailah untuk kenikmatanmu sendiri, jangan merisaukan kami anakmu. Sisanya juga akan kami pertimbangkan untuk masa tua kami juga.

Apa kata pepatah: 破家值万贯,yang artinya barang di rumah tua banyak sekali. Sepanjang kehidupan barang2ku yang terkumpul dari jarum benang lengkap, kotak2 penyimpanan, lemari, laci semuanya terisi penuh dengan barang2 kebutuhan sehari-hari: baju 4 musim, kebutuhan tempat tidur 4 musim, menumpuk segunung; aku gemar sekali menyimpan, perangko terkumpul setumpuk; peralatan dapur juga terkumpul puluhan mungkin ratusan set; belum terhitung barang berharga souvenir kecil besar, giok, manao dll., ada yang tergantung di dinding, juga dua ekor ikan kuning kecilku.

Apa lagi buku2, sebidang dinding dengan rak buku yang penuh.

Ada lagi botol2 dengan anggurnya, dari arak lokal sampai western wine, juga tersimpan puluhan botol; masih juga seperangkat peralatan listrik lengkap; ber-macam2 perlengkapan memasak listrik, panci wajan piring mangkok, minyak beras garam serta ber-macam2 bumbu dapur, mengisi penuh setiap sudut dapurku; juga setumpuk buku2 resep masakan….

Melihat barang2 yang banyak sekali seisi rumahku, aku jadi sedih dan gelisah! Di Panti Werda hanya ada satu ruang, sebuah lemari, sebuah meja, sebuah tempat tidur, sebuah sofa, sebuah kulkas, sebuah mesin cuci, sebuah TV, sebuah kompor induksi, sebuah microwave. Sama sekali tidak ada tempat untuk menyimpan semua barang2 berhargaku yang aku kumpulkan sepanjang hidupku.

Seketika ini, tiba2 saja aku merasa, semua barang yang selama ini aku anggap berharga ternyata semua terlalu berlebih dan terlalu banyak, barang2 ini semua sama sekali bukan menjadi bagianku! Aku hanya sekali-kali saja melihatnya, bermain dengan barang2 ini, dipakai sebentar, barang2 ini semua kenyataannya adalah milik alam semesta ini, kita semua hanyalah pengunjung yang datang mampir untuk melihat-lihat.

ForbidenCity milik siapa? Raja menganggap milik baginda, tapi hari ini, dia milik rakyat, dia milik masyarakat.

Tiba2 saja aku jadi memahami satu hal: Kenapa Bill Gates mau mendonasikan seluruh hartanya nantinya; Kenapa MaWeiDu mengumumkan akan mendonasikan seluruh koleksi barang antik di musiumnya.

Semua itu karena mereka paham: Semua ini pada dasarnya adalah bukan milik mereka, mereka hanya sekali2 me-lihat2, Ber-main2, Dipakai, ……. Ketika lahir tidak membawanya, nanti ketika meninggal juga tidak bisa membawanya, bukankah akan lebih baik bila menorehkan sedikit nama harum, sekaligus beramal dan berdana. Sungguh amat cerdik !

Sedang seluruh barang2 yang banyak sekali di dalam rumahku ini, sungguh sangat ingin sekali aku donasikan, namun amat sulit melakukannya. Sekarang mau mengurusnya benar2 jadi masalah rumit. Anak cucu yang bersedia menerimanya hanya satu dua dengan niat yang terpaksa.

Bisa aku bayangkan, suasana seperti apa yang akan anak cucuku lakukan pada barang2 yang aku anggap berharga dan kesayanganku ini  :

Semua baju2 seprei selimut yang pernah aku pakai semuanya akan dibuang; puluhan buku2 album foto kenanganku semua akan dimusnahkan; sebidang dinding buku2 berhargaku di lemari akan dijual sebagai barang rombengan; souvenir dan semua pernik2 yang kukumpulkan puluhan tahun dianggap tidak berkenan akan disingkirkan semua; perabot kayu merah yang tidak berguna, dijual dengan harga murah…..

Seperti akhir cerita dari Loteng Merah: Yang tertinggal adalah semuanya kosong, sangat bersih !

Akhirnya, memandang tumpukan baju2ku yang menumpuk seperti gunung, aku hanya mengambil beberapa potong yang paling sering dan paling nyaman aku pakai; perlengkapan dapur aku hanya mengambil wajan dan ember; buku aku ambil yang benar2 masih layak dan pantas dilihat lagi; pecah belah kubawa 1 set cangkir untuk minum teh; kuambil Identitas diriku, Surat Pensiunku, Kartu Berobat,  Buku Rekening Bank, tentu saja kartu ATMku, cukup sudah !

Ini adalah semua harta yang ada di rumahku! Aku telah akan meninggalkannya, aku pamit dengan tetanggaku, aku berlutut di depan pintu rumahku dan menyembah tiga kali, aku kembalikan rumahku ini kepada dunia ini !

Benar sekali! Kehidupan manusia hanya butuh sebuah tempat tidur, sebuah Ruang Tidur, selebihnya hanya untuk dilihat dan dipakai untuk bermain sebentar!

Seseorang hidup sepanjang hidupnya akhirnya memahami: Barang yang benar2 kita butuhkan, adalah kita harus bertanggung jawab pada diri sendiri. Kita wajib merawat dan mengurus baik2 kesehatan diri ini, menyesal kemudian tidak berguna. Bila tubuh dan kesehatan kita jelek, hidup di dunia ini sungguh amat sangat menderita.

Catatan: Seseorang hidup di dunia ini sebenarnya barang yang dibutuhkan tidak banyak, janganlah karena barang2 yang berlebihan menjerat langkah kita untuk ‘happy’!

*Yang ditulis ini semua adalah pengalaman dan suasana hati yang nyata, buat mereka2 yang berusia 60 tahun ke atas, sangat patut untuk direnungkan baik2, perjalanan terakhir dalam tahap kehidupan ini akan dijalani seperti apa? Lupakan semua impian dan beban kemelekatan, lupakan semua makanan yang tidak habis termakan, pakaian yang dipakai tidak habis, juga barang2 yang tidak bisa dibawa…. Mempunyai badan yang sehat adalah lebih penting daripada apapun juga!*

PENTAKOSTA KE 3

PENTAKOSTA KE 3

SENIMENULISISIHATITUHAN

JADWAL IBADAH

JADWAL IBADAH