Sunday, February 17, 2019

Umum Februari 2019 #3 - Tuhan Yang Menenangkan Hatiku


TUHAN YANG MENENANGKAN HATIKU
Mazmur 94

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan,
karena dari situlah terpancar kehidupan. - Amsal 4:23


Saudara, pernahkah suatu anda merasakan begitu kesal, sebal, be-te dan entah mengapa pikiran-pikiran negatif memenuhi kepala anda sedemikian sehingga hatinya rasanya down dan menjadi tidak semangat?  Mungkin itu karena sesuatu yang anda dengar atau lihat atau mungkin juga karena perenungan yang entah bagaimana membawa anda menjadi bad-mood.  Jika saudara pernah mengalaminya, anda tidaklah sendirian.  Banyak orang yang mengalami seperti itu dari masa-masa, bahkan pemazmur yang pasalnya kita baca hari ini.  Puji syukur kepada TUHAN, dalam pasal ini juga terdapat pola yang bagus untuk kita ikuti setiap kali menghadapi perasaan bad mood seperti diatas, sehingga kuasa TUHAN mengalir dan menenangkan kita, dan dengan demikian kita menjaga hati kita.

1. Berkeluh kesahlah kepada TUHAN (1-11)

Pemazmur tidak mengajarkan kita untuk bersungut-sungut (menggerutu sekalipun TUHAN sudah menunjukkan dengan jelas Ia memberkati dan menyertai kita), tetapi mengajarkan kita bahwa kita bebas untuk mengungkapkan isi hati kita kepada TUHAN.  Dari ayat-ayat ini kita melihat bahwa pemazmur berkeluh kesah karena kelakuan orang-orang yang seenaknya berbuat jahat (3), berbicara kurang ajar (4), menindas sesama mereka (5), menyengsarakan janda-janda miskin, orang asing, anak-anak yatim dan bahkan membunuh mereka (6), menganggap TUHAN tidak tahu-menahu (7), bebal dan tidak pakai pikiran akal sehat (8), serta tidak mau dinasehati (9).  Bukankah ini juga masih terjadi sampai hari ini?

Seringkali anak-anak TUHAN berpikir: kenapa semua itu masih terjadi?  Mengapa TUHAN sepertinya tidak turun tangan.  Tetapi tidak demikian.  Bukannya TUHAN tidak peduli, sebaliknya Ia sangat mengetahui apa yang terjadi; baik yang terlihat maupun tidak kelihatan (10-11).  TUHAN memahami kita saat kita berkeluh kesah ketika kita melihat dosa dan ketidakadilan sosial merajalela di tengah masyarakat.  TUHAN tahu bahwa itu adalah bentuk keprihatinan dan kepedulian kita terhadap apa yang tengah terjadi.  Itulah sikap yang memang seharusnya ditunjukkan oleh orang percaya: tidak suka melihat dosa dan bersyafaat bagi dunia.


2. Renungkan dan ingat kembali segala kebaikan TUHAN (12-19)

Pemazmur mengungkapkan bahwa bisa saja yang kita keluh kesahkan kepada TUHAN ternyata ber-efek langsung kepada kita.  Bahasa sederhananya: saya gak buat salah, mereka yang buat salah, eh, saya kena getahnya juga.  Ketika hal ini terjadi mungkin kita pun akan "protes" kepada TUHAN.  Tetapi tidak ada hal yang TUHAN izinkan terjadi kepada kita anak-anak-Nya, tanpa Ia menggunakan hal tersebut untuk mengajar dan mendewasakan kita (12-13).  Semuanya menjadi modal bagi masa depan kita, bahkan menjadi modal bagi kita untuk bersaksi menyatakan kebaikan TUHAN.

Warna suasana dari ayat 12-19 sangat berbeda dari 1-11.  Dibagian ini pemazmur menjadi tenang ketika ia merenungkan bahwa TUHAN tidak pernah jauh dari umat-Nya (14), TUHAN itu adil (15), TUHAN selalu siap menolong dan membela kapanpun (16-17), TUHAN tidak pernah membuat kita sampai terjatuh karena masalah (18), dan TUHAN-lah yang menenangkan pikiran dan hati kita (19).  Jangan lupakan apa yang TUHAN sudah lakukan kepada kita sampai hari ini.


3. Nyanyikan dan deklarasikan kebaikan TUHAN (20-23)

Sekarang suasana hati pemazmur telah berubah dari berkeluh kesah menjadi pujian penyembahan kepada TUHAN.  Pemazmur menyatakan bahwa tidak mungkin TUHAN bersekongkol dengan pembuat kebusukan dan kejahatan (20-21) dan tidak mungkin TUHAN diam melihat orang yang tidak bersalah malah difitnah fasik (21).  Ayat 22-23 adalah puncak pernyataan iman akan sikap dan karakter Allah yang begitu dipahami oleh semua orang yang percaya, menaruh harap dan perlindungan dalam TUHAN.

Setelah kita mengingat segala hal yang luar biasa yang telah TUHAN perbuat kepada pada masa lalu, hingga masa kini, maka sekarang tiba waktunya bagi kita untuk menyatakan dan menyanyikan nyanyian ucapan syukur atas kebaikan TUHAN, dan engkau akan merasakan hadirat-Nya menenangkan dan meneduhkan hatimu.


Peneguhan
TUHAN tidak keberatan saat kita berkeluh kesah kepada-Nya, saat hati kita terasa berat.  TUHAN mau dan sanggup untuk mengubah segala takut, gelisah, kesedihan dan perasaan tak berdaya kita menjadi sukacita dan puji-pujian. Amin. (CS)

PENTAKOSTA KE 3

PENTAKOSTA KE 3

SENIMENULISISIHATITUHAN

JADWAL IBADAH

JADWAL IBADAH