Monday, January 6, 2020

Umum Januari 2020 #1 - Dimensi Baru Dalam Hidup Kita



DIMENSI BARU DALAM HIDUP KITA

“Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” (2 Korintus 3:18)

Kita telah memasuki tahun 2020, Tahun Dimensi Yang Baru. Kata “dimensi” dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) adalah ukuran yang mencakup panjang, lebar, tinggi, luas dan lainnya. Dimensi juga bermakna salah satu aspek yang meliputi atribut, elemen, item, fenomena, situasi atau faktor yang membentuk suatu entitas. Jika kita merenungkan ayat bacaan kita diatas yang merupakan salah satu nats dari tema tahun 2020, jelaslah bahwa janji TUHAN bagi kita, dimensi yang baru berarti makin diubahkan menjadi serupa dengan Kristus, dalam kemuliaan yang semakin besar. 

Dengan kata lain, dalam tahun dimensi yang baru ini, dimensi dan kapasitas rohani kita makin diperbesar (meningkat), bahkan TUHAN akan “…mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun,” (Ulangan 28:13-14).

Di Tahun Dimensi Yang Baru ini paling tidak ada 3 (tiga) hal yang harus kita tingkatkan:
1.   Dimensi kasih kita kepada TUHAN dan sesama.
Dimensi kasih seperti apa yang Tuhan Yesus kehendaki dari kita sesungguhnya? Kasih yang tidak bersyarat (agape), kasih yang “walaupun/meskipun…” dan bukan kasih yang “kalau…” artinya kita tetap mengasihi TUHAN dan sesama walaupun kita belum menerima jawaban doa, walaupun belum mengalami mujizat, walaupun belum melihat pertolongan TUHAN. Dan bukan sebaliknya: “saya mengasihi TUHAN kalau saya diberkati, kalau saya ditolong TUHAN, kalau saya menerima mujizat dari TUHAN. Dalam Yohanes 21:15-17, ketika bertanya kepada Petrus untuk yang pertama dan kedua kali, Tuhan Yesus bertanya: “apakah engkau mengasihi (agapao/agape) kepada-Ku?”

“Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini." (Markus 12:29-31)

Dalam ayat tersebut diatas, dimensi kasih yang Tuhan Yesus kehendaki adalah mengasihi TUHAN dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan. Dan dimensi kasih kepada sesama adalah seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Mari kita refleksi diri, apakah dimensi kasih kita sudah seperti yang Tuhan Yesus kehendaki?

2.   Dimensi penyembahan kita kepada TUHAN
Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." (Yohanes 4:23-24)
Penyembahan kepada TUHAN tentunya melibatkan segenap keberadaan kita, yakni tubuh, jiwa dan roh. Misal penyembahan dalam arti yang sempit, dimana kita berdoa, memuji dan menyembah TUHAN: dengan tubuh kita mengeluarkan suara (menyanyi, bersorak, dll), menari, bertepuk tangan, melompat, berlutut, tersungkur, dan lain-lain. Dengan jiwa kita bersukacita, fokuskan pikiran kita menyembah, dengan luapan emosi (kerinduan, kasih sayang, dll), namun tidak berhenti sampai pada dua aspek/dimensi itu saja, melainkan juga harus sampai pada dimensi roh, dimana kita menyembah Dia juga dengan roh kita yang dipenuhi dengan Roh Kudus, memuliakan TUHAN, berkomunikasi dengan TUHAN, meninggikan TUHAN dengan berbahasa roh.

3.   Dimensi pemberian (persembahan) kita
Memberi persembahan adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam ibadah kita, sekalipun ada gereja yang memasukan persembahan dalam liturgi ibadah, maupun yang memberikan kebebasan kepada jemaat untuk memberi persembahan sebelum atau sesudah ibadah ke dalam kotak persembahan atau nomor rekening yang telah disediakan, prinsipnya persembahan pasti ada dalam ibadah kita sebagai orang percaya.
Mari kita renungkan dimensi pemberian/persembahan yang menyentuh di hati Tuhan Yesus.

“Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya." (Markus 12:41-44)

Memberi dari kelimpahan akan terasa lebih mudah, sebab kita masih punya pegangan, harapan dan simpanan untuk memenuhi kebutuhan bahkan keinginan kita. Kita tidak terlalu berpikir bisa makan atau bisa memenuhi kebutuhan pokok atau tidak setelah memberi. Namun memberi dari kekurangan bahkan dari seluruh nafkah yang diperoleh, seperti halnya janda yang miskin adalah soal yang lain lagi. Dibutuhkan iman, kebergantungan kepada Allah, kasih, ketaatan dan rasa syukur yang besar!

Persembahan sulung yang akan kita bawa di bulan Februari sesunggunya salah satu bentuk latihan untuk kita meningkatkan dimensi dalam hal memberi. Banyak dari kita mungkin terbiasa memberi 10%, 20%, 50% bahkan lebih dari itu. tapi 100% (alias seluruh nafkah kita pada bulan Januari)? Mari masuk dimensi yang baru dalam memberi! (DL)

PENTAKOSTA KE 3

PENTAKOSTA KE 3

SENIMENULISISIHATITUHAN

JADWAL IBADAH

JADWAL IBADAH