Saturday, May 4, 2019

Youth Mei 2019 #1 - MENGENAL KARAKTER DAN PRIBADI YESUS (FRIENDLINESS VS LONELINESS PART 1)


MENGENAL KARAKTER DAN PRIBADI YESUS
(FRIENDLINESS VS LONELINESS  PART 1)

Bahan Bacaan
Yohanes 15:12-15, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.”

Penjelasan Materi
Youthers, dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai dua tipe kepribadian orang. Pertama, adalah orang-orang yang supel yaitu mereka yang pandai menyesuaikan diri, pandai bergaul, luwes dengan siapa saja yang ia temui, sehingga tidak heran orang dengan sifat seperti ini memiliki banyak teman (ekstrovert). Kedua, adalah orang-orang yang suka menyendiri yaitu mereka yang lebih suka nyaman jika dalam kesendiriannya dan menghabiskan waktunya dengan melakukan apa yang ia sukai, dibanding berada di keramaian orang banyak (introvert). Mungkin kita bisa bertanya pada diri kita sendiri, termasuk tipe manakah kita?

Perlu kita pahami Youthers, bahwa kedua tipe tersebut tidak ada yang paling baik dan paling buruk. Keduanya sama-sama memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Hanya saja, tidak baik jika kedua tipe itu menjadi berlebihan di luar batas kewajaran. Penting bagi kita untuk menyadari bahwa apapun tipe kepribadian kita, bagaimanapun kondisi diri kita, siapapun kita, sebanyak apapun atau hanya sedikitnya teman kita, itu tidak jauh lebih penting dibanding memiliki karakter Kristus dalam diri kita.

Menarik untuk kita pelajari Youthers, bahwa Alkitab banyak mengisahkan perjalanan kehidupan pelayanan Yesus yang menyiratkan tentang karakterNya yang patut kita teladani. Jadi, apapun tipe kepribadian kita, baik supel atau penyendiri, baiknya kita menjadikan karekter Yesus menjadi patokan bagi kita dalam pemikiran, perkataan dan perbuatan kita dalam kehidupan sehari-hari.

Yesus adalah Pribadi yang supel dan mudah untuk “didekati” para murid dan orang banyak, Ia tidak memberikan kesan bahwa dia orang penting yang sangat sibuk dan sulit untuk ditemui, sebaliknya, Yesus itu friendly, Ia selalu menerima siapa saja yang mau mendekat kepadaNya. Karena pribadiNya yang bersahabat, penuh kepedulian dan kasih, membuat  baik orang tua maupun muda nyaman berada di dekatNya dan  tidak segan mendekatiNya. Youthers, bukankah hal ini juga kita rasakan, ketika kita berada dalam hadirat Tuhan? Ketika kita mendekat padaNya, maka Ia mencurahkan kita akan kasihNya, memberikan kita kenyamanan dan damai sejahtera.

Alkitab mencatat banyak peristiwa hal mana Yesus bergaul dengan semua orang, termasuk para pendosa dan orang-orang yang dikucilkan pada zamannya sekalipun (Luk 19:1-10, Luk 7:36-50, Mrk 7:1-10). Yesus memberikan teladan sikap yang luar biasa kepada kita agar tidak mengkotak-kotakkan dan membuat kelas-kelas di antara manusia, karena kita tahu Firman Tuhan mengatakan bahwa kita semua adalah ciptaan Tuhan yang baik dan berharga di mataNya.

Youthers, biarlah melalui perenungan hari ini, kita mau meneladani kepribadian Yesus yang selalu berorientasi akan jiwa-jiwa dan keselamatan mereka. Karena bagi Yesus, yang terpenting bukanlah  soal eksistensi dirinya di mata orang banyak, tetapi bagaimana Kerajaan Sorga bisa ada dalam kehidupan mereka dan kasih Tuhan bisa mereka rasakan melalui apa yang Yesus ajarkan dan lakukan.

Bahan Diskusi:
Sesuai dengan pengalaman-pengalaman pribadi kita bersama Yesus, seperti apakah kita memandang Pribadi Yesus? Dari karakter dan kepribadian yesus yang dijelaskan di atas, apakah kita pernah melakukannya juga untuk orang-orang di sekitar kita?

Umum Mei 2019 #1 - Kesatuan Hati Untuk Memenangkan Jiwa



KESATUAN HATI UNTUK PENUAIAN JIWA

“supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”  (Yohanes 17:21)

Salah satu pokok penting dalam doa Tuhan Yesus adalah terjadinya kesatuan diantara semua orang percaya. Dahsyatnya kesatuan yang Tuhan Yesus doakan bukanlah kesatuan yang semu atau kesatuan yang sementara melainkan kesatuan dengan sebuah standart ilahi yang sangat tinggi…sama seperti Engkau ya bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau…Wow! tentu ini bukanlah sebuah perkara yang main-main. Dalam ke-tritunggal-an masing-masing Pribadi Allah (Bapa, Anak dan Roh Kudus) dapat dibedakan, namun tidak dapat dipisahkan. Jadi kesatuan hati yang tidak dapat dipisahkan itulah yang dikehendaki Tuhan Yesus bagi semua orang percaya.

Kesatuan hati orang Kristen secara global dimulai dari kelompok yang terkecil dan terus meluas sampai pada komunitas yang lebih luas (universal), yakni :
a.          Kesatuan hati antara suami-isteri
b.         Kesatuan hati dalam keluarga
c.          Kesatuan hati dalam kelompok keluarga yang lebih luas, misal keluarga besar (jasmani) atau dalam kelompok sel/COOL (rohani)
d.         Kesatuan hati dalam gereja lokal
e.          Kesatuan hati dengan sesama Tubuh Kristus (antar gereja)
f.          Kesatuan hati seluruh orang percaya secara am/universal.

Dimulai dari kesatuan hati antara dua pribadi yang terpaut cinta dan diikat dengan kasih Kristus dalam pernikahan sampai kepada kesatuan hati seluruh orang percaya di seluruh dunia yang diikat dan dipersatukan oleh kasih Tuhan Yesus melalui karya penebusan-Nya.
Memadukan dua pribadi dalam sebuah bahtera rumah tangga saja tidak mudah, bagaimana menyatukan pribadi yang berbeda-beda di seluruh dunia? Sulit, tapi bukan hal yang mustahil. Namun untuk mewujudkannya memerlukan hal-hal berikut:

1.                  Saling Mengasihi (dengan kasih Kristus)
Ada 3 hal mendasar terkait dengan saling mengasihi :
a.       Saling mengasihi merupakan perintah baru yang Tuhan Yesus berikan kepada murid-murid. Dan standart mengasihinya haruslah sama seperti Tuhan Yesus telah mengasihi masing-masing kita secara pribadi.
Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. (Yoh 13:34)
b.      Dalam saling mengasihi harus ada pengampunan / tindakan saling mengampuni
Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. (Efesus 4:31-32)

c.       Dalam saling mengasihi harus ada saling membantu
Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. (Efesus 4:2)
Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. (Galatia 6:2)

2.                  Menaruh Pikiran dan Perasaan Kristus
Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. (Filipi 2:5-8)
Apa wujud dari pikiran dan perasaan Kristus?
a.       Kerendahan hati / tidak sombong (tidak mempertahankan hak apalagi menuntut hak)
b.      Memiliki hati hamba (kesediaan, kerelaan dan kesiapan untuk melayani dan bukan dilayani)
c.       Ketaatan mutlak dan tuntas akan rencana dan kehendak Bapa, sekalipun harus mengorbankan Nyawa-Nya.

3.                  Usaha untuk memelihara kesatuan
Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua. (Efesus 4:3-6)
           
Kesatuan hati memerlukan usaha baik untuk memulai maupun untuk memeliharanya. Artinya perlu kesadaraan dan kerelaan dari masing-masing individu untuk melakukan segala bentuk daya dan upaya dalam memelihara kesatuan. Segala upaya itu harus dilakukan dengan sukarela, sukacita dan oleh ikatan damai sejahtera. Tidak mengambil keuntungan dari pelayanan dan tidak mencuri kemuliaan Tuhan untuk diri sendiri adalah salah satu upaya memelihara kesatuan.

4.                  Tujuan bersama
Salah satu penghambat utama terjadinya kesatuan adalah memiliki kepentingan dan tujuan yang berbeda, ditambah lagi jika masing-masing kubu ingin mengedepankan, mendahulukan kepentingan dan tujuannya sendiri.
Dalam membangun kesatuan hati diantara orang percaya, kita harus memiliki tujuan bersama, yakni penyelesaian amanat agung (pentakosta ketiga).

Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya." (Matius 24:14)

Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:18-20).

Mari kita berjalan dan menggenapi tujuan bersama kita, yang tentunya jauh lebih mulia daripada tujuan masing-masing. Kita mungkin berbeda dengan gereja lain secara aliran dan denominasi. Namun, jika kita tujuan kita adalah penyelesaian Amanat Agung, maka Roh Kudus pasti mengikat kita dalam kesatuan hati yang kuat berdasarkan kasih Kristus. Amin.

PENTAKOSTA KE 3

PENTAKOSTA KE 3

SENIMENULISISIHATITUHAN

JADWAL IBADAH

JADWAL IBADAH