Monday, October 21, 2019

Youth Oktober 2019 #2, AKIBAT TIDAK MAMPU MENGENDALIKAN DIRI



AKIBAT TIDAK MAMPU MENGENDALIKAN DIRI (BELAJAR DARI TOKOH ALKITAB)
(SELF CONTROL VS SELF INDULGENCE  PART 2) 
       
Bahan Bacaan
Amsal 25:28, “Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya.

Penjelasan Materi:
Youthers, dari bahan bacaan kita di atas, dapat kita pahami bahwasannya seseorang yang tidak mempunyai penguasaan diri akan selalu rentan terhadap segala sesuatu yang menekan dirinya, orang itu tidak akan sanggup bertahan apabila menghadapi tantangan dan halangan dalam kehidupannya. Apalagi jika ia  yang sedang dilanda panas hati, tentunya dapat terlihat melalui raut mukanya, perkataannya yang keras dan pedas serta tindakannya yang jauh dari pengendalian diri tetapi dekat pada pemuasan diri. Jika tidak dikendalikan dan ditaklukkan dalam Roh Kudus, maka akan cenderung berbuat dosa dan akan membawa pada kejahatan. 

Alkitab mencatat ada empat orang yang mengalami panas hati dan tidak mampu mengendalikan diri:

1.   Pertama, Kain, yang menjadi panas hati terhadap Habel, karena persembahannya tidak diterima oleh Tuhan. Kain tidak dapat menguasai hatinya, sehingga ia merencanakan untuk membunuh adiknya. Kain pun akhirnya membunuh adiknya
2.   Kedua, Saul, yang menjadi panas hati terhadap Daud, sehingga dia berupaya untuk membunuhnya. Beruntung, Daud bisa terbebas dari rencana pembunuhan Saul.
3.   Ketiga, Haman bin Hamedata, orang Agag, yang merasa dirinya layak untuk dihormati para pegawai dan rakyat .Setiap rakyat dan pegawai yang bertemu dengan Haman diharuskan untuk sujud menyembahnya. Namun, Mordekhai tidak mau menghormati dia. Hal ini membuatnya menjadi panas hati terhadap Mordekhai, sehingga dia merencanakan pemusnahan terhadap orang Yahudi.
4.   Keempat, Herodes. Herodes menjadi panas hati ketika mendengar berita bahwa telah lahir raja orang Yahudi di Betlehem. Dia merasa tersaingi dengan kehadiran bayi yang dipercaya akan menjadi raja orang Yahudi. Oleh karena itu, Herodes menyuruh untuk membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya yang berusia 2 tahun ke bawah.

Youthers, dari kisah keempat tokoh Alkitab tersebut kita dapart memetic pelajaran berharga bahwasannya jika kita gagal mengendalikan diri kita dari situasi yang memanas dalam kehidupan sehari-hari, maka kita akan mudah panas hati dan melakukan dosa. Lalu bagaimana agar kita terhindar dari dosa panas hati? Youthers, mintalah Roh Kudus untuk menjaga hati kita supaya jangan timbul akar pahit, termasuk panas hati. Biarlah hati kita didamaikan oleh-Nya, diberikan karunia penguasaan diri sehingga terhindar dari kejahatan, juga tetaplah rajin membaca Alkitab, sebab dengan membaca Alkitab kita diingatkan agar tidak berbuat hal-hal yang dibenci Tuhan.

Bahan Diskusi : Apa yang akan kita lakukan seandainya kita mengalami situasi yang dialami keempat tokoh Alkitab tersebut?

Umum Oktober 2019 #2 - Menghidupi DNA Restorasi Pondok Daud 2



MENGHIDUPI DNA RESTORASI PONDOK DAUD #2

Restorasi Pondok Daud : Prajurit-prajurit TUHAN yang gagah perkasa, yang mempunyai gaya hidup doa, pujian, penyembahan bersama-sama dalam unity siang dan malam, yang melakukan kehendak Bapa pada zaman now!

Kita memperkatakan DNA ini dalam banyak kesempatan, tidak sedikit yang bertanya tanya bahkan mempertanyakan, bagaimana langkah konkrit melakukan DNA ini. Gembala Jemaat Induk/Gembala Pembina dengan tegas dan praktis menyampaikan bahwa kita menghidupi DNA dengan hidup intim (membangun keintiman) dengan TUHAN dengan komunikasi dua arah yang intens, dimana didalamnya ada doa, pujian, penyembahan.

Daud adalah seorang yang membangun keintiman dengan TUHAN dalam kesehariannya, bahkan sejak dia masih remaja dan menggembalakan kambing domba yang dua-tiga ekor di padang penggembalaan. Bagaimana karakteristik orang yang menghidupi DNA Restorasi Pondok Daud seperti Raja Daud?

1. Memiliki kerinduan senantiasa dekat dengan TUHAN.
Kerinduan Daud kepada TUHAN nampak termanifestasi dalam beberapa hal yang Daud lakukan antara lain:
a. Menciptakan mazmur, syair dan nyanyian kerinduan kepada TUHAN (Mazmur 63). Bahkan Daud merupakan pemazmur yang disukai serta banyak menuliskan Mazmur pengagungan, pujian kepada TUHAN.
b. Membawa Tabut TUHAN kembali ke kotanya (2 Samuel 6).
Tabut adalah lambang kehadiran TUHAN, sebagaimana sejak zaman Musa, TUHAN datang berjumpa dengan umat Israel diatas kerub yang ada di tutup pendamaian.

Daud rindu senantiasa berada dekat dengan TUHAN dalam hadirat-Nya. Itu sebabnya Daud membawa kembali Tabut ke kotanya.
Orang yang menghidupi DNA, membangun keintiman dengan TUHAN senantiasa memiliki kerinduan dekat dengan TUHAN, berdoa, memuji dan menyembah TUHAN.

2. Mengimpartasikan kerinduan akan TUHAN kepada orang lain.
Setelah Tabut dibawa kembali dari rumah Obed-Edom, Daud tidak menempatkannya dalam kemah pertemuan yang di Silo, melainkan membangunkan sebuah pondok dan meletakkan Tabut itu disana (2 Sam 6:17), serta menugaskan para imam penjaga pintu serta imam pemuji penyembah dari suku Lewi dan Yehuda.

Ini adalah hal yang sangat revolusioner dan tidak lazim, namun berdampak pada restorasi penyembahan kepada TUHAN. Dalam kemah pertemuan (Kemah Suci) hanya imam besar yang dapat mengakses kepada tabut, 1 kali setahun, tapi di kemah yang dibentangkan Daud, semua orang bisa mengakses (melihat dan berada dekat Tabut).

3. Melakukan kehendak TUHAN pada zamannya.
Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku. (Kis 13:22)

Kalau kita menghidupi DNA Restorasi Pondok Daud, membangun keintiman dengan TUHAN, kita akan peka dengan apa yang menjadi kehendak TUHAN dan melakukannya pada zaman ini.

Apa kehendak TUHAN pada zaman now? Pentakosta ketiga, penyelesaian amanat agung! Mari bangun keintiman dengan TUHAN dan tuntaskan amanat agung. (DL)

Youth Oktober 2019 #1 - YESUS MENGAJARKAN KITA UNTUK MENGENDALIKAN DIRI


YESUS MENGAJARKAN KITA UNTUK MENGENDALIKAN DIRI
(SELF CONTROL VS SELF INDULGENCE  PART 1)        
             
Bahan Bacaan
Galatia 5:22-23, “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum y yang menentang hal-hal itu.”

Penjelasan Materi:
Youthers, dalam Galatia 5:23, “pengendalian diri” berasal dari kata egkateria yang dalam bahasa Yunani berarti memiliki kuasa, kekuatan, menguasai dan mengendalikan diri. Oleh karena itu kata pengendalian diri berarti dapat menguasai keinginan dan kemauan diri sendiri yang diaplikasikan dalam tindakan ketaatan, penyerahan diri dan hidup yang tidak kompromi terhadap dosa. Dari pengertian tersebut, kita dapat belajar dari kisah Pencobaan Yesus di Padang Gurun dalam Injil Matius 4:1-11, yang menceritakan bagaimana Yesus menunjukkan bahwa Ia dapat mengendalikan dirinya walaupun sedang berpuasa selama 40 hari.

Perlu kita ketahui Youthers, bahwa kata Padang Gurun dalam Perjanjian Lama disebut Yeshimmon yang berarti tempat pembinasaan. Nama ini sesuai dengan kondisi padang gurun yang tandus, kering dan serba sulit. Orang yang berada di sana tanpa persiapan akan mengalami kesulitan bahkan kebinasaan. Jadi pastinya Youthers dapat membayangkan tempat sulit semacam inilah Yesus dicobai oleh iblis, dengan segala tipu muslihatnya, ia terus menggoda dan berusaha menjatuhkan Yesus agar melakukan dosa dan kesalahan. Kabar baiknya adalah, sekalipun godaan iblis begitu besar dan menggiurkan di mata manusia, tetapi Yesus mampu bertahan pada prinsip kebenaran Firman Tuhan. Yesus mampu mengendalikan diriNya, kemauanNya seturut dengan kehendak BapaNya.

Mengubah Batu Menjadi Roti
Di padang gurun Yesus dicobai untuk memakai kuasa-Nya bagi kepentingan diri sendiri. Ini yang justru ditolak oleh Yesus dengan mengatakan, "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah”  Yesus mampu mengendalikan rasa laparNya dan tidak berbuat dosa karena Ia kuat pada Firman Tuhan

Yesus disuruh Terjun dari Bubungan Atap
Kalau Yesus mau menjatuhkan diri, Dia akan dipuji dan dikagumi karena memiliki kuasa mungkin juga akan menjadi terkenal karena tidak mungkin akan mati. Tapi Yesus menolak godaan iblis itu, Ia bukan pribadi yang gila akan kehormatan dan popularitas. Lagi-lagi Yesus mampu mengendalikan diriNya dari tawaran iblis itu.

Yesus diminta Uuntuk Sujud menyembah iblis
Ini godaan untuk menjual harga diri demi kekuasaan, asalkan Yesus mau menyembah iblis itu, namun dengan tegas Yesus menjawab, “Enyahlah, Iblis. Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!

Youthers, kita sudah sama-sama memahami dengan sangat jelas bagaimana sikap Yesus terhadap pencobaan dalam hidup-Nya. Ia memutuskan untuk tidak kompromi terhadap kejahatan dan dosa. Inilah pengendalian diri Yesus yang patut kita teladani.

Bahan Diskusi : Seperti Yesus, kita pun mengalami banyak godaan dalam kehidupan kita. Apakah kita berani bersikap seperti Yesus: tegas, tidak tawar-menawar atau pun berkompromi? Ataukah kita masih punya jalan lain?

Umum Oktober 2019 #1 - Menghidupi DNA Restorasi Pondok Daud


MENGHIDUPI DNA RESTORASI PONDOK DAUD

Sejak awal, TUHAN memanggil Gembala Jemaat Induk/Gembala Pembina kita dengan panggilan yang spesifik, yakni Restorasi Pondok Daud, inilah yang kemudian menjadi DNA (ciri khusus) dari gereja kita, keluarga besar GBI Jl. Jend. Gatot Soebroto.
Sama seperti halnya DNA secara jasmani menurun kepada keturunan secara jasmani/lahiriah, demikian juga dengan 'DNA rohani' menurun kepada 'keturunan secara rohani' atau anak-cucu rohani.

Gembala Jemaat Induk/Gembala Pembina telah menjadi teladan bagi kita semua bagaimana menghidupi DNA Restorasi Pondok Daud, dengan cara hidup intim dengan Tuhan Yesus, dalam hubungan yang tak putus selama 24 jam sehari dalam doa, pujian, penyembahan serta Firman Tuhan.

Dalam Alkitab banyak terdapat orang-orang yang menghidupi Restorasi Pondok Daud (memiliki kehidupan yang intim/akrab dengan TUHAN), salah satunya adalah Maria. Bagaimana ciri orang yang menghidupi DNA Restorasi Pondok Daud?

1. Tahu memilih yang terbaik.
Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya." (Lukas 10:41-42).
Hidup selalu menawarkan pilihan-pilihan kepada kita. Dibutuhkan kebijaksanaan untuk memilih mana yang terbaik dari beberapa pilihan yang baik, agar kita tidak terjebak dalam pilihan yang salah.

Maria dan Marta memiliki pilihan saat Tuhan Yesus datang berkunjung ke rumah mereka, apakah menjamu Yesus dengan berbagai hidangan sebagaimana layaknya memperlakukan tamu yang datang, atau memanfaatkan kesempatan yang besar dan singkat itu untuk duduk dekat kaki Tuhan Yesus dan mendengarkan pengajaran-Nya.
Marta memilih melakukan yang baik dengan berupaya menyajikan hidangan untuk menjamu Tuhan Yesus. Tapi Maria memilih yang terbaik, sebab kesempatan dikunjungi oleh Yesus dan mendengarkan pengajaran-Nya secara langsung, intens dan private (hanya beberapa orang saja) adalah sebuah kesempatan langka yang belum tentu terulang lagi.

Kadang pilihan yang sama juga kita alami, antara sibuk dalam pekerjaan dan tugas-tugas pelayanan atau duduk dan menikmati hadirat dan lawatan Tuhan, antara larut dalam kesibukan bisnis/pekerjaan atau menginvestasikan waktu yang berharga bersama keluarga. Semuanya adalah pilihan. orang yang menghidupi DNA, yang intim dengan TUHAN pasti tahu memilih mana yang terbaik dalam hidupnya.

2. Bertindak tepat disaat yang tepat.
Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. (Lukas 7:44-46)
Sebab dengan mencurahkan minyak itu ke tubuh-Ku, ia membuat suatu persiapan untuk penguburan-Ku. (Matius 26:12)

Dalam beberapa kesempatan, Tuhan Yesus menyampaikan kepada murid-murid-Nya tentang kematian-Nya. Namun entah mengapa dan apa yang menyelubungi pikiran mereka sehingga mereka tidak terlalu 'aware' atau 'ngeh' dengan hal itu. Mereka melakukan aktivitas bersama dengan Tuhan Yesus seperti biasa. Sampai satu peristiwa, ketika Yesus dijamu makan oleh seorang Farisi dan Maria datang membasuh kaki Yesus dengan airmata, menyekanya dengan rambutnya serta mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu murni yang mahal harganya. Bagi Yudas, itu adalah sebuah pemborosan yang tidak perlu. Tapi bagi Yesus itu adalah hal yang paling tepat dan dilakukan disaat yang tepat, mempersiapkan hari penguburan Yesus.

Orang yang melakukan DNA, yang intim seperti Maria, mengambil langkah, tindakan-tindakan yang tidak terpikirkan oleh kebanyakan orang lain. melakukan yang tepat disaat yang tepat adalah salah satu kunci keberhasilan dalam banyak aspek kehidupan kita, dan itu hanya bisa kita lakukan jika kita memiliki kehidupan yang intim dengan TUHAN. Amin (DL)

PENTAKOSTA KE 3

PENTAKOSTA KE 3

SENIMENULISISIHATITUHAN

JADWAL IBADAH

JADWAL IBADAH